Rabu, 15 April 2015

STATUS GIZI PADA ANAK




A.    Pengantar
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Taufik Ashar ( 2008) yang berjudul ‘’analisis pola asuh makan dan status gizi pada bayi di kelurahan pb selayang medan’’ Tidak ada bayi yang mendapat Inisiasi Menyusui Dini (langsung disusui) begitu lahir, masih ada bayi yang disusui setelah 4 hari lahir yaitu 5%, tidak semua bayi mendapat frekuensi pemberian ASI secara on demand yaitu 10% bayi usia 0-6 bulan dan 20% bayi usia 7-12 bulan, 80% bayi menyusu dengan waktu ≥ 15 menit dan 20% bayi menyusu dengan waktu < 15 menit, hanya 1% bayi yang mendapat ASI eksklusif, terdapat 10% bayi yang mendapat MPASI begitu lahir, jenis MPASI yang paling dikonsumsi bayi adalah MPASI non komersial sedangkan jenis MPASI yang paling sedikit dikonsumsi bayi adalah susu formula, terdapat 5% bayi berstatus gizi buruk dan 75% bayi berstatus gizi baik berdasarkan berat badan, terdapat 25% bayi berstatus gizi pendek dan 75% bayi berstatus gizi normal berdasarkan panjang badan (Ashar, Lubis, & Aritonang, 2008).
Kurang terpenuhinya gizi pada anak dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun psikomotor dan mental, serta dapat menyebabkan kekurangan sel otak sebesar 15% hingga 20% (Widodo, 2008). Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Selain itu, anak yang menderita kurang gizi (stunted) memiliki rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata anak-anak yang tidak kekurangan gizi (UNICEF dalam Hadi, 2005).
B.     Pengertian Gizi
Beberapa pengertian gizi menurut para ahli yaitu :
1.       Deswarni Idrus dan Gatot Kunanto (1990)
             Gizi (Nutrition) adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara  normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpangan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
2.      Harry Oxorn dan William R. Forte
Gizi meliputi pengertian yang luas, tidak hanya mengenai jenis-jenis pangan dan gunanya bagi badan melainkan juga mengenai cara-cara memperoleh serta mengolah dan mempertimbangkan agar kita tetap sehat (Sulistyoningsih, 2011).
Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian gizi adalah komponen kimia yang terdapat dalam zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk perkembangan dan pertumbuhan .
C.    Nutrisi Penting Pada Balita
Beberapa nutrisi penting yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi seperti :
1.      Vitamin A, D, E, K
Vitamin ini sangat vital bagi balita.Jadi, usahakan agar asupan vitamin ini terpenuhi setiap harinya.Seperti kita ketahui, vitamin A sangat baik untuk penglihatan dan kesehatan kulit balita.Sedangkan vitamin D berperaan penting dalam meningkatkan penyerapan kelsium serta membantu pertumbuhan tulang dan gigi.Serta vitamin E memiliki anti oksidan yang membantu pertumbuhan system syaraf dan pertumbuhan sel. Vitamin K berpengaruh dalam pembekuan darah.
2.       Kalsium
Mineral yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan massa tulangnya. Kalsium sangat penting untuk membentuk tulang yang kuat sehingga balita terhindar dari patah tulang. Sumber kalsium yaitu : susu, keju, tahu, dll.
3.       Vitamin B dan C
Fungsi dari vitamin B antara lain meningkatkan system syaraf dan imun tubuh balita, meningkatkan pertumbuhan sel, serta mengatur metabolisme tubuh.Sementara vitamin C berfungsi untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh balita serta mencegah sariawan.Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin B antara lain beras merah, pisang, kacang-kacangan, ikan, daging dan telur.Sementara untuk memenuhi gizi balita dengan vitamin C dapat diperoleh dari tomat, kentang, stroberi, dan lain-lain.
4.      Zat Besi
Balita sangat membutuhkan zat besi terutama untuk membantu perkembanga otaknya. Jika kebutuhan gizi balita akan zat besi tidak terpenuhi, kemungkinan ia akan mengalami kelambanan dalam ungsi kerja otak. Sumber makanam yang yang mengandung zat besi antara lain daging, ikan, brokoli, telur, bayamkedelai serta alpukat (Mustapa, Sirajuddin, & Salam, 2013).
D.    Faktor Penyebab Gizi Kurang Pada Bayi
Gizi buruk pada bayi dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor seperti berikut:
  1. Faktor yang pertama yaitu mengenai pengadaan bebrapa makanan yang kurang mencukupi pada suatu wilayah tertentu. Penyebabnya bisa dikarenakan oleh kurangnya potensi alam ataupun kesalahan ketika mendistribusikan makanan tersebut.
  2. Faktor yang kedua yaitu mengenai segi kesehatan sendiri, mislanya seseorang menderita penyakit kronis terutama masalah gangguan pada sistem metabolisme/penyerapan makanan. Menurut mantan Menteri Kesehatan yaitu Dr. Siti Fadilah mengatakan bahwa ada 3 hal yang saling berkaitan terutama dalam hal gizi buruk diantaranya mengenai kemiskinan, kesempatan kerja rendah dan pendidikan yang rendah. Maka hal tersebut mengakibatkan kurangnya ketersediaa pangan di rumah tangga dan beberapa pola asuh anak yang sering keliru. Dan berakibat pada kurangnya asupan gizi pada balita dan balita tersebut akan mudah sekali terkena berbagai macam penyakit. Ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan gizi buruk pada balita diantaranya sebagai berikut:
a.       Penyebab secara langsung : misalnya makanan yang tidak seimbang untuk anak dan berbagai penyakit yang sering diderita oleh seorang anak. Seorang anak yang mendapatkan makanan yang cukup tetapi dapat terserang penyakit seperti nafsu makan berkurang, diare pada akhirnya dapat menderita gizi buruk.
b.      Penyebab secara tidak langsung
1)      Ketahanan pangan di dalam keluarga yaitu kemampuan keluarga untuk dapat memenuhi kebutuhan makan seluruh anggota keluarga.
2)      Dalam pola pengasuhan anak. Misalnya dapat berupa perilaku sang ibu ataupun pengasuhnya dalam hal merawat, memberikan kasih sayang, memberikan makan ataupun dalam hal kebersihan. Pada dasarnya semua itu berhubungan dengan kesehatan ibu baik secara fisik maupun mental, pendidikan, pengetahuan, status gizi, pekerjaan, adat kebiasaan dari ibu dan pengasuhnya.
(Kesehatan Gizi Anak, 2013).
E.     Penilaian dan Standar atau Alat Ukur Standar Gizi
Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan pengukuran langsung maupun tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung seperti :
1.      Klinis
Metode ini didsarkan atas perubahan yang terjadi dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi.
2.      Biokimia
Metode ini menggunakan pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories
3.      Biofisik
Metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
4.      Antropometri
Antropometri merupakan pengukuran terhadap dimensi tubuh dan koposisi tubuh.Sebagai idikator unsure gizi dapat digunakan dalam memberikan indikasi tentang kondisi social ekonomi pendudukan dapat dilakukan dengan mengukur parameter.Kombinasi beberapa parameter disebut indeks antropometri.Indeks antropometri yang digunakan adalah berat badan menurut umur.
a.       Berat badan pada masa bayi balita, berat badan dpat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi. Alat yang dapat memenuhi persyaratan dan kemudian dipilih dan dianjurkan untuk digunakan dalam penimbangan anak baita adalah dacin.
b.      Umur factor umum sangat penting dalam penentuan status gizi
Kesalahan penentuan dapat menyebabkan interpretasi status gizi yang salah.Cara menghitung umur yaitu dengan menentukan tanggal, hari, bulan dan tahun anak waktu lahir sehingga didapat umur anak.Bila kelebihan atau kekurangan hari sebanyak 16 hari sampai 30 hari dibulatkan 1 bulan.Bila kekurangan atau kelebihan 1 hari sampai 15 hari dibulatkan menjadi 0 bulan (Sulistyoningsih, 2011).
F.      Penatalaksanaan Masalah Gizi Kurang pada bayi
1.      Perlindungan terhadap Kurangan Zat Besi, Asam Folat, dan Kekurangan Energi dan Protein Kronis pada ibu hamil
Salah satu alternatif memotong siklus hayati kekurangan gizi jatuh pada mata rantai status gizi dan kesehatan ibu hamil yang merupakan faktor penentu kesehatan dan gizi generasi selanjutnya. Intervensi gizi pada masa kehamilan dapat memperbaiki komposisi dan ukuran tubuh pada masa remaja dan dewasa kelak. Pemberian makanan tambahan (PMT) pada ibu hamil adalah salah satu alternatif perbaikan gizi bagi generasi berikutnya Intervensi gizi pada masa kehamilan juga dapat memberikan tambahan atau simpanan zat gizi yang lebih baik pada ibu dan janin, misalnya intervensi besi dapat meningkatkan simpanan besi dalam bentuk ferritin atau haemosiderin dalam hati dan darah, seng dalam bentuk α-macroglobulin, asam folat dalam bentuk poliglutamat, dan iodium dalam tiroid (dalam bentuk tiroglobulin).
Simpanan ini dapat dimanfaatkan bayi dari ASI selama masa menyusui misalnya laktoferin. Demikian juga halnya dengan zat gizi yang meningkatkan pertumbuhan seperti seng, yodium, vitamin A dan folat diduga memungkinkan meningkatkan cadanganya pada bayi yang dilahirkan (Amal, 2012).
2.      Program-program Spesifik dan Sensitif
Faktor langsung dan tidak langsung diartikan sebagai faktor yang masing-masing memerlukan intervensi yang spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik, adalah tindakan atau kegiatan yang dalam perencanaannya ditujukan khusus untuk kelompok 1000 hari pertama kehidupan. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, seperti imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI eksklusif, MP-ASI dan sebagainya. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek. Hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek.
Sedang intervensi Sensitif adalah berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, tidak khusus untuk 1000 hari pertama kehidupan. Namun apabila direncanakan secara khusus dan terpadu dengan kegiatan spesifik, dampaknya sensitif terhadap keselamatan proses pertumbuhan dan perkembangan 1000 hari pertama kehidupan. Dampak kombinasi dari kegiatan spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka panjang. Beberapa kegiatan tersebut adalah penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain.
G.    Dampak Kekurangan Gizi Pada Bayi
            Jika dikaji secara mendalam penyakit kekurangan gizi disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gisi esensial. Selain itu, adanya ketidakseimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, absorbsi, dan penyakit infeksi. Dampak dari penyebab semua ini akan berlanjut pada penyakit akut maupun kronik. Adapun penyakit yang dimaksud adalah:
1.      Berat bayi lahir rendah (BBLR)
            Kelompok masyarakat yang paling menderita akibat dampak krisis ekonomi terhadap kesehatan adalah ibu. Kesehatan ibu ini akhirnya akan mempengaruhi kualitas bayi yang dilahirkan dan anak yang dibesarkan. Bayi dengan berat lahir rendah merupakan salah satu dampak dari ibu hamil yang menderita kurang energi kronis dan akan mempunyai statuz gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan mental anak,serta berpengaruh pada penurunan IQ.
2.      Gangguan pertumbuhan
            Telah disebutkan diatas bahwa status gizi yang buruk akan menyebabkan gangguan pertumbuhan. Dalam teori pertumbuhan ada banyak jenis yang perlu dibahas seperti mental, fisik, sosial, spritual, dan budaya. Sehingga jika status gizi buruk tidak ditangani secara intensif maka generasi akan cenderung mengalami gangguan mental, fisik, sosial, spritual, dan budaya. Tapi yang paling berpengaruh adalah gangguan perilaku dan fungsi otak. Generasi akan mengalami kebodohan dan isolasi sosial hingga akhirnya bunuh diri.
3.      Kurang Energi Kronis (KEK)
            KEK adalah keadaan ibu yang menderita keadaan kekurangan makanan yang berlangsung menahun (kronis) sehingga mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan pada ibu. KEK dapat terjadi pada wanita usia subur (WUS) dan Ibu hamil (bumil). Tentunya selang waktu dari KEK ini cukup lama. Karena mulai dari usia subur dengan status gizi buruk akan berdampak pada rahimnya kemudian berdampak pada kehamilannya dan akhirnya berdampak pada janinnya, masa persalinan sampai bayi dan anaknya yang akan tumbuh secara terus menerus dengan disertai gangguan dan hambatan.
4.      Gangguan pertahanan tubuh
            Status gizi yang kurang menyebabkan daya tahan tubuh terhadap tekanan atau stres menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga seseorang mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, diare,. Pada usia balita, keadaan ini akan mengakibatkan kematian (Mustapa et al., 2013).

Tidak ada komentar: